Senin, 28 Oktober 2019

ULM : Kawah Candradimuka Pribadi Berkualitas dan Berdaya Saing Bagi Nusa dan Bangsa




Memulai paragraf tentang sebuah universitas nyatanya bukanlah hal yang mudah. Apalagi ini adalah universitas yang telah menggembleng saya sejauh ini. Tapi setidaknya saya akan mencoba sejujur mungkin menautkan satu per satu huruf menjadi sebuah paragraf yang berkesinambungan.

ULM atau yang familiar di muntung  (mulut) masyarakat Kalsel, UNLAM. Walau sudah resmi mengukuhkan nama menjadi ULM, tetap saja apa yang tertanam di benak masyarakat adalah nama UNLAM. Saya memulai kiprah menjadi keluarga ULM sejak tahun 2016. Program studi yang saya pilih adalah Psikologi.

Pastinya kita semua tahu bahwa ULM menjadi simbol pendidikan tinggi terutama di Provinsi Kalimantan Selatan. Mungkin sejauh ini saingan ULM  yang bisa disejajarkan dalam lingkup Kalimantan hanya UNMUL. Mungkin.

Dengan  sejarah yang kuat dan menjadi simbol harapan para orangtua untuk masa depan anaknya. ULM pada awalnya membuat saya skeptis. Bahwa benar memang ULM ini adalah kampus kebanggaan masyarakat Kalimantan Selatan. Namun di tahun 2009, setelah saya coba-coba ulik soal ULM, akreditasi kampus ini masih setara C. Tentu itu bukan gambaran yang baik untuk sebuah kampus yang punya sejarah yang cukup panjang. Hingga pada akhirnya ULM berproses dan berbenah. Tahun 2016 ULM sudah berpredikat B, dan tentunya keraguan saya di awal mulai terkikis. Hingga pada akhirnya saya memutuskan mendaftar di ULM. Dan baru-baru ini ULM nyatanya tidak merasa nyaman dengan akreditasi B tersebut. Tidak tanggung-tanggung,  saat ini ULM sudah berpredikat A, keren!

Tentunya ikatan yang terjalin antara saya dan ULM layaknya ikatan sepasang kekasih di awal menjalin asmara, penuh keraguan dan kurangnya rasa percaya. Semester awal saya mulai ngampus di ULM, saya masih menyimpan sejuta keraguan menyoal masa depan saya bersama embel-embel ULM ini. Maklum, sebagai maba yang seringkali terkontaminasi artikel-artikel dan ujaran-ujaran soal latar belakang kampus yang katanya akan mempermudah mencari pekerjaan. Tahun 2016 saya masih menganggap ULM adalah kampus yang belum mencapai standar harapan terkait kampus keren, bagus dan berdaya saing. Saat itu saya masih meromantisasi perasaan saya dengan kekecewaan gagal masuk UI dan UNDIP. Saya masih terjebak bayang-bayang dua kampus itu dan masih tidak menaruh harapan dan cinta pada ULM.

Tetapi kita hidup di dunia yang tidak pernah diam. Waktu terus berjalan, mata kuliah berganti dan semester bertambah. Perlahan saya mulai menapaki kehidupan baru dengan berbagai cerita di ULM. Yang namanya waktu dan perasaan. Kadang dua hal tersebut seringkali tidak tetap kedudukannya. Begitu juga  dengan waktu dan perasaan saya. Ada sesuatu yang mulai terkikis seiring waktu. Ya, keraguan saya mulai memudar. Menginjak semester tiga, hati dan rasa cinta saya mulai tumbuh terhadap universitas ini. Alasannya? Entahlah, ada banyak hal yang tidak perlu dijelaskan, apalagi menyangkut perasaan. Di semester tiga saya mulai aktif mengikuti organisasi. Saya menjadi staf Hima Psikologi tahun 2017/2018 . Lewat organisasi inilah banyak pandangan-pandangan dan perasaan saya menyoal ULM perlahan berubah.

Saya ingat betul ketika ILMPI atau Ikatan Lembaga Mahasiswa Psikologi Indonesia sering mengadakan lomba-lomba kepenulisan. Saya yang notabene lumayan suka menulis, tentu memanfaatkan lomba tersebut untuk setidaknya berkontribusi mengirimkan artikel saya mengatasnamakan ULM. Dari lomba-lomba tersebut ada beberapa yang saya menangi. Dan ketika nama saya dan ULM berada di urutan pertama bersanding dengan UGM, UB dan UI , dari situ saya melihat bahwa ULM punya potensi. ULM sebenarnya memiliki orang-orang yang mampu bersaing dengan kampus-kampus raksasa di Pulau Jawa sana. Apa yang saya raih hanya sebagian kecil dari komunitas orang-orang berkualitas yang ada di ULM. Semenjak itu keraguan saya hilang, muncul rasa optimis dan kepercayaan diri yang tinggi ketika bertemu dengan anak-anak Psikologi dari daerah lain seperti UGM, UI, UNHAS, UB dan daerah-daerah lainnya. Apalagi ketika tahun ini, ULM dipercaya menjadi tuan rumah Musyawarah Kerja Nasional ILMPI ke-9. Dari situ saya yakin, ULM sudah mulai punya kedudukan yang tidak bisa dipandang sebelah mata di kancah pendidikan tinggi nasional.

Lalu bagaimana perasaan saya saat ini? Masih ragu dan masih tidak cinta? Di semester tujuh ini, saya telah berdamai dengan hati dan perasaan saya. Bahwa nyatanya romantisasi kekecewaan saya di semester awal ternyata fana. Keabadian yang akan saya bawa sampai mati nyatanya adalah universitas yang setiap minggu tanahnya saya pijak, Universitas Lambung Mangkurat. ULM akan abadi menjadi jawaban saya ketika ditanya, pernah kuliah di mana, lulusan mana dan S1 nya di mana. ULM juga pastinya akan menjadi penopang dan sumber tenaga saya untuk bersaing dengan berbagai manusia di kehidupan yang sebenarnya. Dan yang terpenting, ULM telah menyisipkan banyak sekali kenangan dalam memori saya sejauh ini. Entah itu kenangan indah, konyol hingga menyedihkan. Semua menjadi satu, saya adalah ULM dan ULM adalah saya.

Menjadi sebuah universitas kebanggaan Banua pastinya menyenangkan. Namun kesenangan tersebut tidak akan berarti apa-apa jika nama sebesar ULM ini hanya jalan di tempat. Syukurlah kecenderungan itu seiring waktu semakin jarang saya rasakan. Saat ini ULM sudah mulai bersolek. Mulai dari sarana dan infrastruktur, hingga kualitas pengajaran mulai dari dosen dan staf, hingga yang paling penting adalah mahasiswanya. Saat ini semuanya mulai digembleng untuk mampu bersaing tidak hanya di lingkaran lokal, tetapi nasional hingga Internasional.

Saya lega, paling tidak sebelum saya berhasil lulus dari kawah candradimuka yang bernama ULM ini, saya setidaknya sudah melihat bagaimana ULM sudah memiliki beberapa infrastuktur yang memadai dengan tidak meminjam gedung saat musim wisuda. Setidaknya sebelum lulus, saya sudah merasakan betapa SIMARI ULM juga seiring waktu punya tampilan yang bagus, efisien dan mudah diakses. Apalagi ketika melihat web resmi ULM, saya semakin bangga menjadi bagian dari universitas ini.

Cinta sudah tumbuh, ragu mulai rapuh. Saya optimis melihat masa depan Universitas Lambung Mangkurat. Saya mungkin tidak ragu untuk mengucapkan ,“ULM Kampus Pilihanku” dan saya yakin suatu saat, entah kapan, ULM akan punya slogan yang keren semacam :“ULM Go International.”

Berawal dari keraguan dan kekecewaan atas kegagalan. ULM memeluk saya layaknya seorang ibu yang mengerti perasaan anaknya. Dia mengajari saya menyoal berbagai hal. Tidak hanya tentang akademik, berbagai pelajaran soal hidup dan passion pun pada akhirnya saya temukan ketika saya tenggelam dalam kehidupan  bersama ULM. Ketika akhirnya kita bicara apakah ULM mampu menghasilkan orang-orang yang memiliki daya saing dan punya kualitas menjadi universitas terkemuka. Satu yang bisa saya katakan, ULM sedang berproses menujua ke sana. Kita hanya perlu percaya dan yakin bahwa ULM tidak suka jalan di tempat, ULM ingin terbang menjadi kampus yang berdaya saing dan terkemuka di seluruh nusa dan bangsa!

Minggu, 06 Januari 2019

Bangga Menjadi Narablog pada Era Digital


“Bangga Menjadi Narablog pada Era Digital”

Dokumen pribadi


        Hari ini tepat minggu, 6 Januari 2016 disebuah kamar  yang sangat saya cintai dan didampingi dengan semilir angin dari kipas angin. Serta tidak lupa bunyi gemericik hujan bersahutan di luar.


      Berbicara hal apa yang membanggakan mengenai menjadi seorang narablog serta mengapa saya memiliki sebuah blog adalah sesuatu yang punya eksistensinya masing-masing. Sebelum kita berkenalan lebih jauh tentang adanya eksistensi kebanggaan dengan alasan saya membuat blog. Ada baiknya kita turun ke hal yang paling mendasar, mengapa dan kapan saya mulai mengenal dunia blog.


        Blog pada awalnya yang saya ketahui adalah daftar runtut ketika saya menjentikkan jari saya pada suatu mesin pencari yang bernama Google. Saya berpikir bagaimana daftar-daftar tersebut bisa muncul pada sebuah mesin pencari seluarbiasa Google. Ketika itu saya sangat ingat momen ketika saya mengutak-atik Google guna mencari tahu apa itu blog. Di tengah suasana liburan semester, saya terlalu bingung untuk membunuh waktu. Tongkrongan saya saat itu selalu berputar itu-itu saja selama 3 minggu, rumah dan Wifi.Id. Saya yang saat itu sudah menginjak kelas tiga SMA, sudah terlalu pusing dengan apa yang harus saya lakukan ketika sudah lulus SMA. Dan entah dapat wejangan dari siapa, hati saya tertuju ke sebuah nama yang sebelumnya saya belum pernah tahu, blog. Tidak butuh waktu lama, saya mencari-cari informasi apa itu blog dan segala tetek bengeknya. Dan pada akhirnya berujung terciptanya sebuah blog pribadi saya saat ini. Awalnya blog ini bernama farid27m.blogspot.com namun karena saya kurang sreg pada akhirnya nama blog inilah yang menjadi nama final blog pribadi saya. Walaupun terbilang blog gratisan, blog inilah yang sempat menjadi saksi betapa saya pernah sangat berapi-api menulis blog hingga pada akhirnya berujung pada titik jenuh sebagai seorang narablog. Saya sempat jenuh dengan apa yang saya lakukan dengan blog ini dan saya mulai tumbuh menjadi seseorang yang realistis.


         Lulus SMA saya lanjut berkuliah  disalah satu Universitas ternama di Kalimantan Selatan. Blog saya pun sempat vakum cukup lama. Sebelumnya ada alasan tertentu yang membuat saya mengatakan pernah sangat berapi-api dalam mengisi blog hingga sampai ke fase jenuh. Saat pertama kali saya menulis blog, yang ada di dalam otak saya pada awalnya hanya bagaimana tulisan saya di blog ini bisa dibaca semua orang. Tidak hanya di Indonesia namun juga dunia. Semakin lama dan semakin sering saya mengisi blog saya, akhirnya sadar ada sesuatu yang menurut saya saat itu adalah hal yang harus dicapai, penghasilan. Orientasi saya berubah dari yang awalnya sederhana menjadi mulai bertingkah. Saya sempat mendaftarkan blog saya ke Adsense Google dan tentu saja bisa ditebak, gagal. Saya pun sempat berpikir untuk mengubah domain yang awalnya ada embel-embel  blogspot menjadi sesuatu yang lebih profesional macam .com. Namun lagi-lagi saya terlalu pemalas dan entah kenapa hati saya sudah terlalu berat untuk melakukan sesuatu yang lebih jauh untuk blog saya ini.


        Waktu terus berjalan dari hari ke hari, hingga sampailah pada hari yang menurut saya adalah pencapaian terbaik dari blog ini. Sebuah blog amatiran yang dikeloala oleh seorang yang bisa dibilang pemalas dalam mengisi konten blog yang ia miliki. Tentunya pencapaian terbaik yang kalian baca bukan sehebat yang kalian bayangkan. Namun bagi saya ini adalah pencapaian terbaik blog pribadi saya.


        Dokumen pribadi

       Hal ini mungkin bisa disebut sebagai momen spesial, begitulah saya menyebutnya. Tepatnya pada tanggal 9 Februari 2018 saya tentunya iseng menulis sebuah review buku. Dan perlu kalian ketahui, ini adalah momen special yang membuat saya merubah orientasi saya yang awalnya uang menjadi sesuatu yang berbeda hingga sekarang.  Singkatnya saya mereview buku seorang Raditya Dika yang kebetulan baru saja merilis buku terbarunya yang berjudul Ubur-ubur Lembur. Niatan saya yang awalnya iseng untuk menulis review buku tersebut. Akhirnya berujung menjadi kebanggaan tersendiri. Lima hari setelah saya mempublish review buku Ubur-ubur Lembur  karya Raditya Dika. Saya dibuat terperangah karena ada info bahwa artikel saya di share oleh seorang Raditya Dika. Saya pun sempat tidak percaya mengenai kabar tersebut. Dan akhirnya saya pun cek akun Instagram seorang Raditya Dika dan benar saja. Pada postingan Instastory Raditya Dika ada tertera nama blog saya dan isi review buku Ubur-ubur Lembur yang saya tulis. Hati saya bersorak, seorang Raditya Dika rela membagikan tulisan saya di akun Instagramnya. Saya berseloroh dalam hati, jadi ini yang disebut menjadi seorang Blogger.


       Viewers blog saya lantas membludak setelah artikel saya singgah di akun Instagram seorang komika dan penulis terkenal Raditya Dika.


         Dari situ saya belajar dan paham bahwa menjadi narablog atau juga sering disebut blogger tidak melulu soal uang. Ada sesuatu yang berbeda di dalamnya dan bagi saya sesuatu yang berbeda itu adalah kepuasan. Puas dalam arti artikel saya dibaca oleh penulis favorit saya. Dan sekarang, blog ini adalah suatu wadah yang berbeda dari tujuan awal saya membuatnya. Dari yang awalnya sederhana, hanya untuk dibaca. Lantas berubah egois dengan orientasi uang,uang dan uang. Lalu kembali ke fitrahnya, sebuah kepuasan. Dua eksistensi yang saya sebutkan memiliki perbedaan di awal paragraf antara mengapa saya memliki blog ini dengan sebuah kebanggan adalah benang merah yang berpores membentuk saya hingga saat ini.


Dan jawabannya adalah, kebanggan saya ketika menjadi seorang narablog adalah suatu ketidaksengajaan semesta yang memerintahkan hati saya untuk membuat blog ini.


       Saya pun sadar bahwa saya masih tidak pantas disebut seorang blogger atau narablog. Jujur ditahun 2018 saya sangat jarang menyentuh blog saya karena sibuk dengan berbagai aktifitas kampus. Namun di tahun 2019 ini, saya bertekad setidaknya mengisi blog saya setiap satu bulan sekali. Bagi saya menulis adalah sesuatu yang menyenangkan. Saya berpikiran bahwa tidak mengapa blog ini tidak menghasilkan. Namun blog ini adalah sejarah yang bisa saya ceritakan terhadap teman-teman, pacar, istri bahkan cucu saya bahwa saya pernah disanjung seorang artis ternama. Sederhana memang, namun percayalah kesederhanaan tersebut tidak dimiliki semua orang.


       Jika ditanya, apakah saya bangga menjadi narablog. Saya akan jawab, saya bangga dengan prosesnya dan sebuah embel-embel narablog ataupun blogger adalah hadiah dari kebanggaan tersebut.

Minggu, 30 September 2018

Netizen dan Kebebasan Bajak Laut Di dunia One Piece

Netizen dan Kebebasan Bajak Laut Di dunia One Piece


Hari ini sambil ditemani secangkir kopi dan biskuit. Aku membuka laptop kesayanganku, menjamahnya dan menggerogoti isinya. Dan akhirnya mataku tertuju pada tumpukan folder dengan judul One Piece. Sebuah serial manga jepang favoritku sejak zaman SD dan hingga sekarang aku masih menggilainya. Tidak ambil pusing, aku lantas melahap video serial one piece tersebut dari satu episode ke episode lainnya. 

Namun entah kenapa seruputan kopi yangke dua puluh tujuh saat itu membuat otakku berkontraksi. Bukan ingin mengeluarkan keterunan namun risih ketika mendengar kalimat yang diucapkan sang kapten bajak laut topi jerami.

Begini kalimat yang sangat lantang diucapkan luffy saat aku menonton video tersebut:

“Aku ingin bebas, aku ingin menjadi raja bajak laut!”
Bacotan Luffy tersebut memang sering diucapkannya dalam bermacam-macam kesempatan. Mulai dari saat sakaratul maut hingga momen-momen bahagia saat berhasil mengalahkan para bajak laut kelas kakap. Aku lalu membayangkan betapa bersalahnya seorang Luffy beserta kelompok topi jeraminya mengajarkan kebebasan dengan begitu lantang dan entengnya kepada dunia.

Bajak laut topi jerami jelas sangat bersalah menyebarkan ujaran kebebasan tanpa tedeng aling-aling. Mereka tidak sadar yang menyaksikan mereka banyak manusia kemarin sore yang baru mengecap udara selama sepuluh tahun bahkan kurang. Namun aku yakin bagi jenis manusia seperti itu mungkin aku rasa kalimat kebebasan hanya sekadar kalimat yang dijadikan slogan saat sedang bermain game playstation dan bermain kejar-kejaran dengan teman sepantarannya.

Yang aku takutkan adalah manusia dengan jenis berbeda yang entah kenapa aku selalu penasaran dengan isi otak manusia jenis ini. Dan jika aku berkawan dekat dengan seorang Roronoa Zoro yang di dunia One Piece menjadi andalan sang kapten untuk menebas musuh-musuhnya. Aku sangat ingin melihat bagaimana seorang Roronoa Zoro menguliti isi pikiran jenis manusia satu ini.

Aku lalu mencoba menghentikan video One Piece yang kutonton tepat dimenit ke 27:00. Aku masih terngiang kalimat kebebasan yang Luffy katakan di video yang kutonton. Sebelumnya aku memang cukup gerah dengan kalimat kebebasan, percayalah. Dan juga sebelumnya pun aku terlalu bodoh menafsirkan arti dari sebuah kebebasan yang baik. Kuseruput kopi pada seruputan yang ke dua puluh delapan. Jam tepat menunjukkan jam 21:00 WITA. Kubuka akun Instagramku dan mencoba mencari kaitan kebebasan yang disebarkan Luffy terhadap dunia dengan kebebasan yang saat ini kugenggam.

Aku merasa bebas sekali, tanpa harus menjadi bajak laut. Mungkin orang sering menyebutku netizen. Walaupun itu sebutan umum, aku tidak terlalu peduli sebutan itu. Lalu dengan sebuah akun instagram yang nyatanya aku memiliki bermacam nama mulai dari yang bernama hewan hingga nama dengan slogan tagar-tagaran yang cukup menarik bagiku. Kubuka akun banyak orang, mulai dari yang terkenal hingga yang bodo amat. Seruputan kopi yang ke dua puluh sembilan kembali kuseruput. Hari ini aku ingin menjadi pemuncak dari sebuah siklus bernama komentar Instagram. 

Video One Piece yang kutonton masih menunjukkan menit 27:00. Akun yang kujejali kalimat liar nan mematikan adalah akun salah satu kepala negara dari negeri yang kudiami saat ini. Tidak lupa dengan akun bernama sebuah planet aku juga melancarkan hal yang sama dengan apa yang kulakukan terhadap kepala negara tadi. Kali ini targetku adalah lawan sang kepala negara ketika pemilihan sang penguasa tahun 7019 nanti. Aku tertawa gila, 2 menit aku menjadi pemuncak dunia!, hahahaa. Seruputan tiga puluh, dan pertanda bahwa kopiku sudah diambang batas. 1.000 like dengan berbagai balasan, aku berhasil. Video One Piece kembali kulanjutkan dimenit 27:00.

Entah dimenit keberapa aku terkesima dengan kalimat Kapten Kid, salah satu bajak laut supernova angkatan Luffy yang mengatakan kalimat berikut :

“Dunia Kriminal masih disebut Bermoral dari pada penguasa yang tamak. Apa kalian sadar saat sampah menguasai dunia,maka dunia akan melahirkan sampah.”
Bacot sekali Kapten Kid ini. Di tengah berbagai ketamakan dunia khayalan itu pun arti kebebasan yang didengungkan para bajak laut di dunia One Piece terlalu bermoral bagiku. Kapten Kid memang bodoh. 

Moralitas kebebasan yang aku sadari sudah kuterobos membuatku benar-benar mencap Kapten Kid adalah orang terbodoh. Dunia nyataku adalah bukti bahwa kebebasan tidak perlu dicapai dengan menjadi bajak laut, terlalu bodoh. Tawaku terus mengembang, dengan balutan hati yang senang. Melihat arti kebebasan sudah bermakna sembarang.

Minggu, 27 Mei 2018

Setitik Harapan Fatamorgana

Cek  cek. Sudah berapa bulan gengs hahaha. Kalau ditiup bakal ada debu ga sih ini blog, mungkin bakal redup kaya pas lagi niup lilin. Oke ngisi apa ya kali ini, emmm. Gw lagi males nulis, karena daya dan tenaga gw terserap untuk nulis laporan. Jadi, kita berpuisi aja deh ya. Kebetulan ditengah kemageran gw saat ini, mungkin puisi ini adalah puisi favorit gw sejauh ini. Yah maknanya buat gw sih biasa aja, tapi entah kenapa hati gw sering getar sendiri saat baca ini puisi. Entah ada hubungan apa hati gw sama hp, sering getar-getar sendiri gitu.

Cekidot yok




SETITIK HARAPAN FATAMORGANA


Siang datang bak kilat cahaya pesat
Seiring rasa yang menggebu
Terpekak di ujung nadi
Tersayat ditengah kerongkongan

Senyum simpul sulit terelakkan
Menari-nari ditengah khayalan fana
Aku yakin itu adalah kau
Wanita yang membuatku berinsting binatang

Harapan-harapan, bodoh mungkin gila
Harapanku berkelana di gurun pasir
Tak berujung dan limbung
Seolah rapuh dan runtuh

Sekarang semua itu sudah kusisipkan
Mencoba melepas gurat nafsu belaka
Berusaha sekuat tenaga untuk  menerka
Bahwa harap  disana hanya fatamorgana

Jumat, 09 Februari 2018

REVIEW BUKU : UBUR-UBUR LEMBUR YANG MEMBUAT HIDUP SEMAKIN NGELANTUR

UBUR-UBUR LEMBUR YANG MEMBUAT HIDUP SEMAKIN NGELANTUR


Buku ini gw lahap dalam waktu hanya 1 jam 30 menit plus sepersekian detik! DAMN !, betapa dahsyat buku satu ini yang membuat gw membuang waktu 1 jam setengah plus sepersekian detik buat baca buku. Terkejut kan! yah pastinya ga sih ya.

Fine,fine kali ini gw bakal nge-review buku again. Hmm, kalau ditilik kembali, review buku yang ada di blog ini baru satu sih. Oke berarti tambah ini jadi 2 haha. Perlu kalian ketahui bahwa buku yang gw review di blog ini adalah buku yang sangat spesial bagi….. Ya bagi gw sendiri aja sih, ga tau kalau bagi orang lain.

Oke, penasaran buku apa yang akan gw review? gambarnya sebenarnya sudah ada tuh. Yup,judul bukunya UBUR-UBUR LEMBUR karya Raditya Dika. Tentu kalian mengenal sosok Raditya Dika bukan? Ya dia seorang pemain action yang pernah bermain di film Fast and Furios gan. Bentar-bentar, itu bukannya Joe Taslim ya?…..

Maaf tadi keseleo jari, Raditya Dika adalah seorang penulis,artis ,youtuber serta seorang komika yang tentu semua anak muda di Indonesia tahu siapa orang ini. Ketika gw ga sengaja nge-cek instagram dan berakhir dengan ngepoin salah satu akun penerbit buku ternama, disitu gw ngeliat ada postingan tentang buku yang berjudul UBUR-UBUR LEMBUR. Hmm, buku apaan sih ini? itu kata hati gw ketika melihat postingan pre-order yang akan dilakukan pihak penerbit yang akan menerbitkan buku UBUR-UBUR LEMBUR. 

Setelah gw tertarik melihat postingan tersebut, hal yg gw lakukan selanjutnya adalah cek komenan posting tersebut, ya ini adalah hal yang selalu gw lakukan ketika gw mencari buku di Instagram, gw pasti nge cek komentar postingan tersebut. Kalau rame dan komentar positif, ada kemungkinan buku tersebut bakal gw beli. Namun jika banyak hujatan pada kolom komentar, gw lebih memilih ikut menghujat di kolom komentar, maaf-maaf maksudnya gw akan mengurungkan niat buat beli buku tersebut guys…..

Singkat cerita sangat banyak yang menantikan buku satu ini. Sebenarnya gw sudah tahu siapa Raditya Dika dan beberapa karya-karyanya. Mulai dari film serta buku-bukunya, dan yang mengangkat nama seorang Raditya Dika tentu dimulai dari buku-bukunya. Gw sudah tahu buku pertamanya yang berjudul kambing jantan lalu marmut merah jambu serta koala kumal. Namun entah kenapa pada saat itu gw sama sekali sangat tidak tertarik dengan buku-buku tersebut. Jujur gw bukan fans Raditya Dika, gw juga bukan penggemar film-filmya yang menurut desas-desus ketika kalian nonton film seorang Raditya Dika, ketika kalian baru saja menginjak karpet bioskop di pintu depan kalian sudah akan tertawa terbahak-bahak sampai urat nadi tegang dan badan kejang karena saking lucunya film yang dibuat seorang Raditya Dika. Dan sejauh ini gw belum pernah sama sekali menonton satu pun film karyanya. Namun ada yang berbeda ketika first impression gw saat melihat karya terbaru Raditya Dika yang berjudul UBUR-UBUR LEMBUR kali ini. Why?

Gw dituntun oleh….. yang namanya…… “PENASARAN”, udah gitu aja sih. Gw cuma Penasaran. Buku tersebut rilis dan akhirnya gw mendapatkan buku tersebut. Sebelumnya gw juga pernah membaca buku karya Raditya Dika yang berjudul Marmut Merah Jambu, saat itu teman gw menceritakan bahwa buku tersebut sangat kocak dan menarik. Lantas gw coba baca dan gw tidak tertarik sama sekali. Entah saat itu selera humor gw rendahan atau gw saat itu memandang hidup ini sangat serius, entahlah gw juga bingung……

Dituntun oleh rasa penasaran yang tinggi serta dengan bimbingan Netizen yang maha bijaksana, akhirnya buku UBUR-UBUR LEMBUR berada ditangan gw. Sebelum gw menceritakan buku tersebut, gw ingin bercerita sedikit bahwa gw bukan tipe pria yang hobi membaca buku, believe it. Gw justru seorang yang hobinya MAGER. Gw sering membeli buku dikarenakan gw harus nyari bahan buat tulisan gw di artikel yang gw setor ke orang lain, jadi setidaknya gw harus membaca , yah walaupun sedikit. Biasanya gw menghabiskan satu buku hingga selesai sampai akhir halaman dapat memakan waktu berminggu-minggu bahkan berbulan-bulan ditambah tergantung setebal apa bukunya juga sih hehe. Buku tercepat sejauh ini yang gw tamatin adalah buku DARK MATTER yang bukunya juga sudah gw review di blog ini, dan rekor tersebut akan terpatahkan sampai tulisan ini di post. Jadi intinya gw bukan seorang pecandu buku yang dimana-mana pikirannya cuma mau baca buku. Mau tidur keinget buku, mau BAB keinget buku, mau kuliah Keinget buku , mau baca buku keinget buku terus bukunya berantem dan akhirnya disuruh milih lebih cinta mana , buku satu atau buku 2. Ngomong apaan sih gw -_-......

Gw cuma seorang penikmat buku yang lebih sering mencari niat untuk membaca ketimbang niat untuk mencari kecebong. Gw suka komik dan novel serta buku-buku biografi para tokoh. Dari buku-buku tersebut gw banyak mengambil informasi bukan hanya untuk sekedar membaca namun juga untuk kualitas artikel dan gaya penulisan gw hehe.

Oke, singkatnya gw baca deh buku yang berjudul UBUR-UBUR LEMBUR. Tampilan bukunya sangat menarik, dengan cover buku berwarna hitam serta ada gambar Raditya Dika dalam bentuk ubur-ubur, maksudnya berkostum ubur-ubur dalam bentuk kartun. So, untuk tampilan awal buku ini, sangat menarik. Ketika gw membuka halaman pertama gw langsung ngakak!, gw tidak bisa membendung ketawa gw sampai kaki gw berhenti digelitik. Jadi kaki gw tadi digelitik…..
Akan memakan banyak halaman kalau gw harus menjelaskan semua bab yang ada dibuku ini dan akan sangat melelahkan bagi gw untuk menulisnya. Ini aja gw ngisi blog ini karena ada waktu senggang, dan tentunya harus gw manfaatkan sebaik mungkin. Kalian harus tahu, satu bulan kedepan kehidupan normal gw akan kembali berjalan dan yang pasti akan menguras tenaga,waktu dan juga pikiran ditambah tentunya UANG.

UBUR-UBUR LEMBUR lebih mirip sebuah buku humor ketimbang sebuah novel, percayalah. Isinya adalah cerpen yang digabung menjadi sebuah buku. Diisi dengan 14 cerita yang seperti ditulis dibuku adalah cerita asli dari seorang Raditya Dika. Buku ini kalau gw jujur adalah buku pertama yang membuat diri gw terpingkal-pingkal saat membaca halaman demi halaman. Ya, ini buku yang luar biasa keren menurut gw. Ini adalah buku yang harus kalian baca ketika galau diputusin pacar, ketika nilai IP kalian menurun, ketika ada mata kuliah yang terkenal killer kalian tidak lulus dimata kuliah tersebut dan buku ini akan menjadi obat bagi sebagian kecil hal-hal tersebut. UBUR-UBUR LEMBUR ditulis dengan kalimat-kalimat yang tidak terlalu sastrawi. Tentu sangat berbeda dengan buku karya Boy Candra, Dee Lestari ataupun karya Andrea Hirata yang ketika gw baca bukunya gw harus sering-sering buka KBBI. Namun Raditya menulis buku ini dengan kalimat-kalimat yang katika kalian membacanya seolah kalian melihat Raditya Dika sedang Stand-up  comedy didepan kalian. Isinya pun sangatlah ringan, bercerita mulai dari masa-masa kecilnya yang lebih sering dihabiskan dengan bermain game dan juga yang menjadi ciri khas Raditya Dika yaitu soal kehidupan percintaanya yang terkenal miris dan ngenes. Kehidupan percintaannya  yang konyol dan unik seolah menjadi nilai lebih dalam setiap buku yang ia telurkan. UBUR-UBUR LEMBUR juga mengajarkan bahwa hidup ini tidak melulu serius, bahkan dari keseriusan hidup ini selalu ada sisi konyol didalamnya. Raditya Dika memaparkan hal tersebut dengan jenaka melalui kisah hidupnya sendiri yang mampu membuat gw ngakak bangke saat gw baca buku ini.

Cinta,komedi,dan juga pandangan mengenai kehidupan adalah kesimpulan yang dapat kita ambil dari buku ini. Oh iya, ada horrornya juga lhooo dibuku ini hehehee. Dan yang paling ngena ketika gw baca buku UBUR-UBUR LEMBUR adalah bagaimana seorang Raditya Dika mengungkap sisi lain dari keartisannya. Raditya Dika menceritakan suka duka menjadi seorang artis yang ternyata tidak selalu menyenangkan. Banyak hal-hal yang tentunya orang lain tidak tahu saat menjadi seorang publik figur dan itu tidaklah mudah, yang pasti kisah tersebut dibalut dengan unsur jenaka yang tidak henti-hentinya mengocok perut gw, perut gw ya, bukan yang lain….

Diakhir bab, kalian akan mendapatkan makna dari judul Buku ini. Apa itu UBUR-UBUR LEMBUR ? mau tahu artinya ? oke gw kasih tau…
Jadi UBUR-UBUR LEMBUR itu adalah……

Sebuah buku yang harus kalian baca saat ini juga dan bersiaplah untuk tertawa terbahak-bahak. Percayalah 231 halaman yang ada dibuku ini akan membuat hidup kalian akan terasa ringan, cuma untuk sementara sih…  dan juga pastikan diri kalian punya selera  humor walaupun secuil saat membaca buku ini..
  

SELAMAT MEMBACA :)………….