Rabu, 31 Januari 2018

ARCTIC MONKEYS : NOT A MONKEY


Hola, nge-pos lagi gan hahaa...........

Kali ini gw akan ngebahas Arctic Monkeys, tentu kalian tau kan band satu ini. Percayalah draft artikel ini sudah mengendap selama 3 tahun di blog amatir ini hahaa. Maka alangkah baiknya gw selesaikan saja  artikel ini, yeaahh selamat membaca :)...

Oke, pada bahasan kali ini sebenaranya gw tidak akan membahas Arctic Monkeys secara menyeluruh. Gw akan membahas garis besarnya saja dari sebuah band asal Britania Raya ini. Dan juga bahasan yang khusus untuk album favorit dan menurut gw pribadi adalah album terbaik dari band ini, ya apa lagi kalau bukan album "AM".



 #KELAHIRAN ARCTIC MONKEYS

Arctic Monkeys berasal dari kota Sheffield, Inggris, kota yang sama dimana band2 lain seperti Pulp dan Deff Leppard berasal. Formasi awalnya adalah Alex Turner (Gitaris), Glyn Jones (Vokalis), Matt Helders (Drummer), Jamie Cook (Gitaris) dan Andy Nicholson (Bassist). Ketika akhirnya semuanya memutuskan untuk lebih serius, Glyn Jones memutuskan untuk keluar dari band karena dia ingin fokus ke kuliah. Posisi Vokalis kemudian diisi Alex Tuner yang juga memainkan gitar. Formasi Arctic Monkey saat ini adalah  Alex Turner Vokal,Jamie Cook gitar,Nick O'Malley bass dan Matt Helder drum. Alex sendiri sebelumnya hanya ingin fokus bermain gitar, dia masih terlalu malu waktu itu untuk memegang Mic. Padahal anggota yang lain tahu dia punya suara yang hebat, juga bakat dalam mencipta lagu, mungkin pengaruh dari ayahnya yang seorang guru musik. Lahir di era 2000-an Arctic Monkey menjelma menjadi band yang digadang-gadang akan sebesar Oasis dan The Beatles. Hmm, berlebihan gak sih ? i think no, why?  because no itu aja.

oh iya, kenapa nama band ini Arctic Monkeys ?

Nama ‘Arctic Monkeys’ merupakan pilihan nama yang diberikan oleh gitaris Jamie Cook, dan dia belum pernah memberikan alasan yang sebenarnya kepada personel lainnya termasuk Alex Turner.




#PERJALANAN KARIR

Domino Record, Indie label yang mempopulerkan Franz Ferdinand kemudian berhasil meminang Arctic Monkeys. Domino dipilih karena mereka menyukai konsep Do It Yourself-nya. Label ini dipimpin oleh Laurence Bell, yang punya gaya hidup sederhana, menggerakkan labelnya dari flatnya dan hanya mengontrak label sesuai selera pribadinya, bukan selera pasar.

Tak lama kemudian ditahun 2005 album pertama mereka "Whatever People Say I Am That's What I Am Not" pun dirilis.  Album ini kemudian tercatat dalam sejarah inggris sebagai album perdana yang paling cepat terjual, karena mampu terjual 363,735 keping hanya dalam waktu 1 minggu!. Setelah prestasi ini, mereka menjalani tur yang padat yang membuat Andy Nicholson, bassist mereka mengalami kejenuhan akut dan memutuskan untuk keluar. Posisi bassist kemudian diisi oleh Nick O'Malley, yang sebelumnya telah sering membantu mereka sebagai Additional Player. Album perdana mereka ini oleh Majalah NME kemudian ditasbihkan sebagai  Album Inggris Terbaik ke-5 Sepanjang Sejarah. 





Tahun 2007, album ke 2 mereka, " Favourite Worst Nightmare" dirilis, yang walaupun dari penjualan tidak sefenomenal penjualan album pertama, album ini mengokohkan posisi mereka sebagai salah satu band muda papan atas.

Tahun 2009, "HUMBUG", album ketiga mereka dirilis. Album ini di produseri Josh Homme, dan proses rekamannya sendiri dilakukan di Amerika. Album ini sangat berbeda dengan album-album mereka sebelumnya.
"SUCK IT AND SEE", album ke 4 mereka dirilis pada awal tahun 2011. Pada album ini lagu favorit gw Brick my brick, lagunya enak bat gan hahaa.

Album AM gw bedain bahasannya ya guys....



# MARI BAHAS "AM"


Album terakhir band ini sebelum hiatus dan bisa dibilang sebuah bentuk kedewasaan yang tersalurkan dalam album AM. Sebenarnya album AM bisa juga disebut album Self titled, Yup AM = Arctic Monkeys. Dan dibawah ini adalah tulisan keren abis dari bang Haris salah satu kontributor atau penulis artikel musik yang artikel-artikelnya sangat sering gw pantengin gan haha. dalam tulisannya, ia mengupas setiap lagu yang ada di album AM. Album AM sendiri adalah album studio ke- 5 dari Arctic Monkeys sebelum mereka memutuskan hiatus untuk beberapa waktu.

Dan kabar baiknya tahun ini Arctic Monkeys dikabarkan akan mengikuti beberapa festival musik. Ini menjadi pertanda bahwa band ini siap bangun dari tidurnya, hmm patut ditunggu. Dan juga kode ini diperjelas lewat postingan instagram Arctic Monkeys, walaupun belum jelas-jelas amat postingannya. Namun itu adalah postingan mereka ditahun 2018. FYI, akun IG mereka sama sekali kosong dan baru beberapa hari kemarin nge-pos, ciaaah kode nii. Oke banyak basinya gw, langsung yok liat tulisan bang Haris tentang album AM dibawah ini guyss... dan juga ini menjadi paragraf penutup yaaa, postingan di akhir januari yanng indah hahaa. see yaaa.......

Sembilan tahun mereka wara-wiri di jagat musik internasional, yang artinya mereka seharusnya mengalami stagnansi berkarya seperti musisi-musisi kebanyakan. Namun pergi merantau ke negeri Paman Sam demi menangkal tendensi tersebut nampaknya membuahkan keberhasilan tersendiri yang akhirnya dikemas ke dalam sebuah album yang lebih gelap, lebih intim, dan pastinya kaya akan eksplorasi musik dibanding karya-karya sebelumnya bertajuk “AM”.

Saya mendengar berbagai rengekan para penggemar yang menginginkan mereka untuk kembali seperti dulu lagi, namun seperti apa yang Paul McCartney dari The Beatles katakan, “…don’t mind growing up, ‘cause you will probably become smarter if you’re lucky”, Arctic Monkeys memanfaatkan kedewasan mereka dengan cara yang jenius. Dalam album ini, mereka menunjukkan bahwa karya-karya apik sebelumnya bukanlah puncak dari karir mereka walaupun telah mendapatkan “akreditasi” baik dari penikmat musik maupun kritikus. Adanya sikap keingintahuan yang tinggi, tidak cepat puas, serta kemampuan mengolah inspirasi inilah yang membuat Arctic Monkeys menjadi bukan sekadar band biasa. Kini mereka adalah musisi di jalannya sendiri.


Seperti pada track pembuka “Do I Wanna Know?” yang membuktikan kemampuan mereka dalam menyerap influence skena musik US dengan menyuguhkan riff-riff rock and roll yang diiringi layer-layer vokal falsetto layaknya sebuah track RnB. Sedangkan “R U Mine?” menawarkan dominasi guitar driven scene yang dibarengi dengan lirik-lirik sassy, genit, serta cuek ala rockstar jaman dahulu. Bagusnya, semua elemen “Amerika” tersebut terkesan tidak memaksa dan berlebihan. Mereka sadar akan proporsi penggunaan hal tersebut yang malah membuat konsep album ini terasa makin kohesif.


Keberadaan Los Angeles sebagai lokasi produksi album ini pun sepertinya cukup dihayati, layaknya track “One For The Road” yang sedikit mengambil esensi dari black music ala West Coast tahun 1990an hingga track berbau American Rock bertitel “Arabella” yang diwarnai chord-chord gitar repetitif pada chorusnya, sangat berbeda dengan apa yang biasa mereka lakukan. Sedangkan “No. 1 Party Anthem” benar-benar meresapi attitude dari rock and roll klasik, tidak hanya dari segi aransemen, namun juga dari penggunaaan catchphrase seperti “Come on, come on, come on.. Number one party anthem” yang sinkronisasinya dengan lirik lain di dalam lagu ini patut dipertanyakan.


Suasana rock and roll klasik (bahkan cenderung seperti gospel) juga terdengar di track “Mad Sounds” yang terasa seperti karya lawas Bob Dylan namun lebih simpel, bahkan permainan keyboard-nya yang begitu retro mampu membuat anda merinding. Ada pula track “Why’d You Only Call Me When You’re High?” yang mengisyaratkan diri sebagai trilogi ke-tiga dari track “Do I Wanna Know?” serta “R U Mine?” yang sama-sama membawa energi cukup edgy, seksi, serta lumayan “nakal” (dan uniknya ketiga judul tersebut sama-sama menggunakan kalimat tanya).


Hujan pujian boleh saja dialamatkan kepada keseluruhan album ini, tetapi saya sedikit melihat “AM” sebagai bentuk egoisme tertentu dari Alex Turner melalui Arctic Monkeys alih-alih sebagai hasil proyek dari sebuah band. Namun sisi positif dari keberadaan Alex Turner kini adalah ia bisa menjaga kesinambungan kreatifitas Arctic Monkeys. Bayangkan saja apabila ia sudah tidak ada lagi di band ini, apakah mereka akan membangun album ke-limanya dengan cara yang sama? Saya rasa tidak.


Lebih lanjut, sepertinya mereka memilih untuk memundurkan linimasa evolusi musik dari album ke album dan menurut saya hal tersebut cukup unik bagi ukuran band yang besar di dekade 2000an, terlebih mereka berhasil menginterpretasi kemunduran linimasa tersebut ke dalam kumpulan karya yang cukup segar dan memiliki identitas tersendiri. Dan sebagai sebuah album yang memperlihatkan dimensi baru bermusik Arctic Monkeys, “AM” akan menimbulkan polarisasi reaksi bagi para penikmatnya. Hanya ada dua pilihan, antara betul-betul menyukainya atau betul-betul membecinya. Apakah anda setuju?



Senin, 08 Januari 2018

"STAY HUNGRY, STAY FOOLISH"

"Stay Hungry, Stay Foolish". Sebuah kalimat nyentrik yang diucapkan seorang Steve Jobs diakhir pidatonya dalam acara wisuda mahasiswa lulusan Stanford University ditahun 2005. Dan hingga sekarang kalimat tersebut terus abadi menjadi slogan Steve Jobs. 

Halo sobat, kembali lagi bertemu dibulan januari yang indah ini. Tentunya ini adalah update-an pertama ditahun 2018 haha. Gw mau bercerita sedikit mengenai tahun yang lalu, ya tahun 2017. 2017 bagi gw adalah tahun yang absurd, ada bahagia dan yang pastinya ada hal yang seakan membuat diri gw hancur lebur. 2017 tentu menjadi tahun yang banyak memberikan pelajaran buat gw, dalam hal kuliah,teman dan hal-hal lainnya yang tentunya membuat diri gw lebih banyak intropeksi aja kedepannya hehe

Ok, langsung ke inti. Belakangan ini gw menyibukkan diri dengan UAS,Freelance dan sebuah buku yang tebalnya bukan main. Untuk UAS,ya gw harus sibuk. Sedangkan Freelance, gw memang harus sok sibuk. Yang terakhir mengenai sebuah buku yang sejauh ini belum gw selesaikan membacanya. Sebuah buku biografi mengenai seorang tokoh dunia abad 20 yang bernama Steve Jobs. Sebelumnya gw memang sudah tahu siapa itu Steve Jobs. Namun ketika gw membaca buku karya Walter Isaacson tersebut gw sadar bahwa sehebat-hebatnya manusia yang ada dibumi, semuanya pastilah memiliki kekurangan dan itu adalah hal yang dapat gw pastikan sendiri. BTW, gw kali ini tidak ingin membahas buku tersebut, karena rencananya akan gw share dipostingan blog gw selanjutnya haha.

Kali ini gw akan nge-repost sob, bukan original dari gw. Ini adalah tulisan dari blog sebelah dan ketika gw membaca, gw langsung berkata " That's Fucking good". Sebenaranya ini adalah kutipan pidato jobs ditahun 2005 yang mengungkap dari mana asal mula kata "Stay Hungry, Stay Foolish" yang legend itu.

 Sebuah cerita lama sih, tapi masih pantas untuk di angkat kembali karena banyak hal-hal bijak yang bisa kita dapati dari sini. Pidato lama Steve Jobs(pendiri dan CEO Apple) dalam acara "commencement speech" di hadapan lulusan Stanford University tahun 2005..
Upps tunggu dulu buat yang menganggap kalo pidato CEO itu pasti membosankan yang ujung-ujungny adalah bisnis, asset and profit. Pastikan anda membacanya terlebih dahulu karena walaupun merupakan pidato di tahun 2005, akan tetap artikel tentang pidato ini sering dimunculkan kembali di tahun-tahun berikutnya.. (Bahkan sebagian besar orang sering mempertanyakan makna dari "Stay Hungry Stay Foolish" yang di sampaikan oleh Steve di akhir pidatonya..

Silahkan menyimak dan merenungkan pidato Steve Jobs berikut semoga dapat memberikan pencerahan:


 Saya merasa bangga di tengah-tengah Anda sekarang, yang akan segera lulus dari salah satu universitas terbaik di dunia. Saya tidak pernah selesai kuliah. Sejujurnya, baru saat inilah saya merasakan suasana wisuda. Hari ini saya akan menyampaikan tiga cerita pengalaman hidup saya. Ya, tidak perlu banyak. Cukup tiga.





  •  Cerita Pertama: Menghubungkan Titik-Titik
 Saya drop out (DO) dari Reed College setelah semester pertama, namun saya tetap berkutat di situ sampai 18 bulan kemudian, sebelum betul-betul putus kuliah. Mengapa saya DO? Kisahnya dimulai sebelum saya lahir. Ibu kandung saya adalah mahasiswi belia yang hamil karena “kecelakaan” dan memberikan saya kepada seseorang untuk diadopsi.
Dia bertekad bahwa saya harus diadopsi oleh keluarga sarjana, maka saya pun diperjanjikan untuk dipungut anak semenjak lahir oleh seorang pengacara dan istrinya. Sialnya, begitu saya lahir, tiba-tiba mereka berubah pikiran bayi perempuan karena ingin. Maka orang tua saya sekarang, yang ada di daftar urut berikutnya, mendapatkan telepon larut malam dari seseorang: “kami punya bayi laki-laki yang batal dipungut; apakah Anda berminat? Mereka menjawab:“Tentu saja.” Ibu kandung saya lalu mengetahui bahwa ibu angkat saya tidak pernah lulus kuliah dan ayah angkat saya bahkan tidak tamat SMA. Dia menolak menandatangani perjanjian adopsi. Sikapnya baru melunak beberapa bulan kemudian, setelah orang tua saya berjanji akan menyekolahkan saya sampai perguruan tinggi.

Dan, 17 tahun kemudian saya betul-betul kuliah. Namun, dengan naifnya saya memilih universitas yang hampir sama mahalnya dengan Stanford, sehingga seluruh tabungan orang tua saya yang hanya pegawai rendah habis untuk biaya kuliah. Setelah enam bulan, saya tidak melihat manfaatnya. Saya tidak tahu apa yang harus saya lakukan dalam hidup saya dan bagaimana kuliah akan membantu saya menemukannya. Saya sudah menghabiskan seluruh tabungan yang dikumpulkan orang tua saya seumur hidup mereka. Maka, saya pun memutuskan berhenti kuliah, yakin bahwa itu yang terbaik. Saat itu rasanya menakutkan, namun sekarang saya menganggapnya sebagai keputusan terbaik yang pernah saya ambil.

Begitu DO, saya langsung berhenti mengambil kelas wajib yang tidak saya minati dan mulai mengikuti perkuliahan yang saya sukai. Masa-masa itu tidak selalu menyenangkan. Saya tidak punya kamar kos sehingga nebeng tidur di lantai kamar teman-teman saya. Saya mengembalikan botol Coca-Cola agar dapat pengembalian 5 sen untuk membeli makanan. Saya berjalan 7 mil melintasi kota setiap Minggu malam untuk mendapat makanan enak di biara Hare Krishna. Saya menikmatinya. Dan banyak yang saya temui saat itu karena mengikuti rasa ingin tahu dan intuisi, ternyata kemudian sangat berharga. Saya beri Anda satu contoh:

Reed College mungkin waktu itu adalah yang terbaik di AS dalam hal kaligrafi. Di seluruh penjuru kampus, setiap poster, label, dan petunjuk ditulis tangan dengan sangat indahnya. Karena sudah DO, saya tidak harus mengikuti perkuliahan normal. Saya memutuskan mengikuti kelas kaligrafi guna mempelajarinya. Saya belajar jenis-jenis huruf serif dan san serif, membuat variasi spasi antar kombinasi kata dan kiat membuat tipografi yang hebat. Semua itu merupakan kombinasi cita rasa keindahan, sejarah dan seni yang tidak dapat ditangkap melalui sains. Sangat menakjubkan.

Saat itu sama sekali tidak terlihat manfaat kaligrafi bagi kehidupan saya. Namun sepuluh tahun kemudian, ketika kami mendisain komputer Macintosh yang pertama, ilmu itu sangat bermanfaat. Mac adalah komputer pertama yang bertipografi cantik. Seandainya saya tidak DO dan mengambil kelas kaligrafi, Mac tidak akan memiliki sedemikian banyak huruf yang beragam bentuk dan proporsinya. Dan karena Windows menjiplak Mac, maka tidak ada PC yang seperti itu. Sekali lagi, Andaikata saya tidak DO, saya tidak berkesempatan mengambil kelas kaligrafi, dan PC tidak memiliki tipografi yang indah. Tentu saja, tidak mungkin merangkai cerita seperti itu sewaktu saya masih kuliah. Namun, sepuluh tahun kemudian segala sesuatunya menjadi gamblang. Sekali lagi, Anda tidak akan dapat merangkai titik dengan melihat ke depan; Anda hanya bisa melakukannya dengan merenung ke belakang. Jadi, Anda harus percaya bahwa titik-titik Anda bagaimana pun akan terangkai di masa mendatang. Anda harus percaya dengan intuisi,takdir, jalan hidup, karma Anda, atau istilah apa pun lainnya. Pendekatan ini efektif dan membuat banyak perbedaan dalam kehidupan saya.


  •  Cerita Kedua Saya: Cinta dan Kehilangan
 Saya beruntung karena tahu apa yang saya sukai sejak masih muda. Woz (Steve Wozniak) dan saya mengawali Apple di garasi orang tua saya ketika saya berumur 20 tahun. Kami bekerja keras dan dalam 10 tahun Apple berkembang dari hanya kami berdua menjadi perusahaan 2 milyar dolar dengan 4000 karyawan. Kami baru meluncurkan produk terbaik kami-Macintosh- satu tahun sebelumnya, dan saya baru menginjak usia 30. Dan saya dipecat. Loh,, bagaimana mungkin Anda dipecat oleh perusahaan yang Anda dirikan? tapi memang itulah yang terjadi. Seiring pertumbuhan Apple, kami merekrut orang yang saya pikir sangat berkompeten untuk menjalankan perusahaan bersama saya. Dalam satu tahun pertama,semua berjalan lancar. Namun, kemudian muncul perbedaan dalam visi kami mengenai masa depan dan kami sulit disatukan. Komisaris ternyata berpihak padanya. Demikianlah, di usia 30 saya tertendang. Bisa anda bayangkan kerja keras bertahun-tahun membangun kerajaan berakhir dengan anda berada di depan gerbangnya.

Beritanya ada di mana-mana. Apa yang menjadi fokus sepanjang masa dewasa saya, tiba-tiba sirna. Sungguh menyakitkan. Dalam beberapa bulan kemudian, saya tidak tahu apa yang harus saya lakukan. Saya merasa telah mengecewakan banyak wirausahawan generasi sebelumnya -saya gagal mengambil kesempatan. Saya bertemu dengan David Packard dan Bob Noyce dan meminta maaf atas keterpurukan saya. Saya menjadi tokoh publik yang gagal, dan bahkan berpikir untuk lari dari Silicon Valley. Namun, sedikit demi sedikit semangat timbul kembali- saya masih menyukai pekerjaan saya. Apa yang terjadi di Apple sedikit pun tidak mengubah saya. Saya telah ditolak, namun saya tetap cinta. Maka, saya putuskan untuk mulai lagi dari awal. Waktu itu saya tidak melihatnya, namun belakangan baru saya sadari bahwa dipecat dari Apple adalah kejadian terbaik yang menimpa saya. Beban berat sebagai orang sukses tergantikan oleh keleluasaan sebagai pemula, segala sesuatunya lebih tidak jelas. Hal itu mengantarkan saya pada periode paling kreatif dalam hidup saya.

Dalam lima tahun berikutnya, saya mendirikan perusahaan bernama NeXT, lalu Pixar, dan jatuh cinta dengan wanita istimewa yang kemudian menjadi istri saya. Pixar bertumbuh menjadi perusahaan yang menciptakan film animasi komputer pertama, Toy Story, dan sekarang merupakan studio animasi paling sukses di dunia. Melalui rangkaian peristiwa yang menakjubkan, Apple membeli NeXT, dan saya kembali lagi ke Apple, dan teknologi yang kami kembangkan di NeXT menjadi jantung bagi kebangkitan kembali Apple. Dan, Laurene dan saya memiliki keluarga yang luar biasa. Saya yakin takdir di atas tidak terjadi bila saya tidak dipecat dari Apple. Obatnya memang pahit, namun sebagai pasien saya memerlukannya. Kadangkala kehidupan menimpuk batu ke kepala Anda. Jangan kehilangan kepercayaan. Saya yakin bahwa satu-satunya yang membuat saya terus berusaha adalah karena saya menyukai apa yang saya lakukan. Anda harus menemukan apa yang Anda sukai. Itu berlaku baik untuk pekerjaan maupun asangan hidup Anda. Pekerjaan Anda akan menghabiskan sebagian besar hidup Anda, dan kepuasan sejati hanya dapat diraih dengan mengerjakan sesuatu yang hebat. Dan Anda hanya bisa hebat bila mengerjakan apa yang Anda sukai. Bila Anda belum menemukannya, teruslah mencari. Jangan menyerah. Hati Anda akan mengatakan bila Anda telah menemukannya. Sebagaimana halnya dengan hubungan hebat lainnya, semakin lama-semakin mesra Anda dengannya. Jadi, teruslah mencari sampai ketemu. Jangan berhenti.




  •  Cerita Ketiga Saya: Kematian
 Ketika saya berumur 17, saya membaca ungkapan yang kurang lebih berbunyi: “Bila kamu menjalani hidup seolah-olah hari itu adalah hari terakhirmu, maka suatu hari kamu akan benar.” Ungkapan itu membekas dalam diri saya, dan semenjak saat itu, selama 33 tahun terakhir, saya selalu melihat ke cermin setiap pagi dan bertanya kepada diri sendiri: “Bila ini adalah hari terakhir saya, apakah saya tetap melakukan apa yang akan saya lakukan hari ini?” Bila jawabannya selalu “tidak” dalam beberapa hari berturut-turut, saya tahu saya harus berubah. Mengingat bahwa saya akan segera mati adalah kiat penting yang saya temukan untuk membantu membuat keputusan besar. Karena hampir segala sesuatu-semua harapan eksternal, kebanggaan, takut malu atau gagal-tidak lagi bermanfaat saat menghadapi kematian. Hanya yang hakiki yang tetap ada. Mengingat kematian adalah cara terbaik yang saya tahu untuk menghindari jebakan berpikir bahwa Anda akan kehilangan sesuatu. Anda tidak memiliki apa-apa. Sama sekali tidak ada alasan untuk tidak mengikuti kata hati Anda.

Sekitar setahun yang lalu saya didiagnosis mengidap kanker. Saya menjalani scan pukul 7:30 pagi dan hasilnya jelas menunjukkan saya memiliki tumor pankreas. Saya bahkan tidak tahu apa itu pankreas. Para dokter mengatakan kepada saya bahwa hampir pasti jenisnya adalah yang tidak dapat diobati. Harapan hidup saya tidak lebih dari 3-6 bulan. Dokter menyarankan saya pulang ke rumah dan membereskan segala sesuatunya, yang merupakan sinyal dokter agar saya bersiap mati. Artinya, Anda harus menyampaikan kepada anak Anda dalam beberapa menit segala hal yang Anda rencanakan dalam sepuluh tahun mendatang. Artinya, memastikan bahwa segalanya diatur agar mudah bagi keluarga Anda. Artinya, Anda harus mengucapkan selamat tinggal. Sepanjang hari itu saya menjalani hidup berdasarkan diagnosis tersebut. Malam harinya, mereka memasukkan endoskopi ke tenggorokan, lalu ke perut dan lambung, memasukkan jarum ke pankreas saya dan mengambil beberapa sel tumor. Saya dibius, namun istri saya, yang ada di sana, mengatakan bahwa ketika melihat selnya di bawah mikroskop, para dokter menangis mengetahui bahwa jenisnya adalah kanker pankreas yang sangat jarang, namun bisa diatasi dengan operasi. Saya dioperasi dan sehat sampai sekarang. Itu adalah rekor terdekat saya dengan kematian dan berharap terus begitu hingga beberapa dekade lagi.

Setelah melalui pengalaman tersebut, sekarang saya bisa katakan dengan yakin kepada Anda bahwa menurut konsep pikiran, kematian adalah hal yang berguna: Tidak ada orang yang ingin mati. Bahkan orang yang ingin masuk surga pun tidak ingin mati dulu untuk mencapainya. Namun, kematian pasti menghampiri kita. Tidak ada yang bisa mengelak. Dan, memang harus demikian, karena kematian adalah buah terbaik dari kehidupan. Kematian membuat hidup berputar. Dengannya maka yang tua menyingkir untuk digantikan yang muda. Maaf bila terlalu dramatis menyampaikannya, namun memang begitu.

Waktu Anda terbatas, jadi jangan sia-siakan dengan menjalani hidup orang lain. Jangan terperangkap dengan dogma-yaitu hidup bersandar pada hasil pemikiran orang lain. Jangan biarkan omongan orang menulikan Anda sehingga tidak mendengar kata hati Anda. Dan yang terpenting, miliki keberanian untuk mengikuti kata hati dan intuisi Anda, maka Anda pun akan sampai pada apa yang Anda inginkan. Semua hal lainnya hanya nomor dua.

Ketika saya masih muda, ada satu penerbitan hebat yang bernama “The Whole Earth Catalog“, yang menjadi salah satu buku pintar generasi saya. Buku itu diciptakan oleh seorang bernama Stewart Brand yang tinggal tidak jauh dari sini di Menlo Park, dan dia membuatnya sedemikian menarik dengan sentuhan puitisnya. Waktu itu akhir 1960-an, sebelum era komputer dan desktop publishing, jadi semuanya dibuat dengan mesin tik, gunting, dan kamera polaroid. Mungkin seperti Google dalam bentuk kertas, 35 tahun sebelum kelahiran Google: isinya padat dengan tips-tips ideal dan ungkapan-ungkapan hebat. Stewart dan timnya sempat menerbitkan beberapa edisi “The Whole Earth Catalog”, dan ketika mencapai titik ajalnya, mereka membuat edisi terakhir. Saat itu pertengahan 1970-an dan saya masih seusia Anda. Di sampul belakang edisi terakhir itu ada satu foto jalan pedesaan di pagi hari, jenis yang mungkin Anda lalui jika suka bertualang.
Di bawahnya ada kata-kata: “Stay Hungry. Stay Foolish.” Itulah pesan perpisahan yang dibubuhi tanda tangan mereka. Stay Hungry. Stay Foolish. Saya selalu mengharapkan diri saya begitu. Dan sekarang, karena Anda akan lulus untuk memulai kehidupan baru, saya harapkan Anda juga begitu. Always Stay Hungry. Stay Foolish.

Yup, begitulah asal mula kalimat Stay Hungry,Stay Foolish ala Steve Jobs. Jadi Lebih tahu kaaan :)

Repost from : http://pondok-cerita.blogspot.co.id/2009/12/steve-jobs-stay-hungry-stay-foolish.html